Thursday, June 25, 2009

Masihkah Kau Mencintaiku


Terimakasih untuk televisi yang memberikan inspirasi untuk judul artikel saya.


Sahabatku. Masihkah kalian ingat janji yang terucap saat memadu kasih saat berpacaran dulu? Begitu indahnya janji yang terucap kala itu. Janji yang menjadikan kalian berdua kini bersatu dalam indahnya ikatan pernikahan. Dan masihkah sahabat ingat doa apa saja yang kalian minta kepada Alloh, Tuhan yang Satu, Tuhan yang Maha Mengabulkan Doa Baik. Masihkah kalian ingat sahabatku?


Cinta, begitu banyak analogi tentangnya. Jika saya ibaratkan ia (cinta) sebagai benih tanaman yang akan menumbuhkan buah/hasil yang manis lagi menyenangkan, maka benih itu haruslah secara teratur kita siram, kita beri ia pupuk yang terbaik, kita rawat dengan cara terbaik kita. Bahkan kesungguhan kita dibutuhkan untuk merawat dan membesarkannya agar ia tumbuh dan terus tumbuh dengan hebatnya.


Untuk sahabatku yang sedang gelisah dalam pernikahannya. Sudahkah sahabat merawat benih (cinta) itu dengan komitmen seperti waktu kalian dahulu berpacaran? Dalam janji suci yang kalian ikrarkan di hadapan banyak orang?


Kunci Kebahagiaan


Sahabat. Kebahagiaan itu lahir dari pengertian yang baik. Pengertian yang baik terhadap apapun yang dihadirkan Alloh Ar-Rohmaan kepada kita. Kebahagiaan tidak di dapatkan dengan sendirinya, namun ia diusahakan oleh pribadi yang hatinya penuh rasa syukur. Kebahagiaan itu tempatnya di hati, dan hanya pribadi-pribadi yang selalu memenangkan hatinya lah yang akan mendapatkan kebahagiaan. (kutipan: mario teguh)


Sahabat. Lihatlah wajah di cermin itu, lihatlah sosok yang penuh dengan kegelisahan di cermin itu. Diri yang sedang merasa resah, takut, dan bersalah setiap harinya.


Untuk sahabatku yang kini menjadi seorang Suami dan Ayah bagi anak-anaknya


Dulu kita berpikir, bahwa orang yang ada disamping tempat kita tertidur adalah manusia terindah yang kita pilih untuk mendampingi kita, menjaga dan mendidik anak-anak kita. Masihkah sahabat ingat janji dan sumpah yang diikrarkan bersamanya? Namun, mengapa kini rasa itu berubah atau bahkan mungkin menghilang?


Apakah kini dia tidak lagi seperti yang dulu? Apakah kini dia telah berubah? Menjadi terlalu gemuk dan tua di hadapanmu? Apakah kini dia tidak lagi secantik seperti pertama kali engkau menikahinya? Perubahan fisik apa saja yang dapat engkau lihat sebagai kekurangannya kini? Hingga hakikat janji, doa, ucap sayang dan cinta tak lagi mampu engkau ucapkan kepadanya? Katakan kepada diri yang ada di cermin itu, coba engkau katakan kepadanya!


Astaghfirulloh al ‘adhim. Astaghfirulloh al ‘adhim. Astaghfirulloh al ‘adhim.


Sahabatku. Apakah kalimat janji, cinta dan sayangmu hanya bernilai saat fisiknya terlihat indah di matamu? Apakah nilai dari cintamu kepadanya telah berubah, berkurang? Apakah dia, yang telah mengorbankan nyawanya untuk melahirkan, merawat dan membesarkan anak-anakmu tak lagi bernilai di hatimu, kini? Istighfarlah sahabatku.


1, 2, 3 tahun berlalu tanpa masalah berarti. Kini, saat usia pernikahan kalian beranjak ke tahun 10 ujian itu datang. Tapi tahukah sahabat, bahwa Alloh yang Maha Agung hanya memberikan ujian kepada hamba-Nya dengan tujuan yang baik? Tidaklah Dia memberikan cobaan berupa kekurangan harta, kehilangan jiwa, dan sebagainya selain untuk memuliakan kita!


Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (QS. Al-Baqoroh:155)


Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (QS. al-An’aam:59)


Bila Komunikasi Visual tak Lagi Berjalan


Saya teringat waktu SMA dulu, pernah membaca buku yang memberikan alternatif komunikasi melalui surat. Pernahkah terlintas dalam pikiran kita bahwa terkadang hati yang rindu dengan rasa nyaman, tenang dan bahagia ini sangat sulit untuk disampaikan. Dan ternyata ungkapan hati bisa kita sampaikan melalui tulisan.


Mungkin masalah kita saat ini datang karena komunikasi yang tidak tersampaikan dengan bahasa pengertian yang baik. So, mengapa kita tidak mencobanya dengan bahasa komunikasi selain visual. Surat misalnya. Caranya:


1. Tulis sebanyak dan se-detail mungkin dari sikap, perilaku, ucapan yang kalian tidak sukai dari pasangan masing-masing.

2. Tulis sebanyak dan se-detail mungkin tentang harapan, keinginan, yang pernah terlintas dalam pikiran, terucap dalam doa kepada dia.


Namailah surat itu dengan nama yang unik, seperti; Suara Hati, atau Suara Hati seorang Istri/Suami, dan lain sebagainya. Selanjutnya, temuilah dia dan bicarakan tentang apa saja yang sudah kalian tulis. Ingat, disini komitmen kalian sangat diperlukan. Komitmen untuk memperbaiki komunikasi, keharmonisan rumah tangga, dan komitmen untuk kebahagiaan bersama tentunya. Dan yang paling penting bahwa apapun keputusan kita, ada kepentingan yang jauh lebih besar, keinginan yang lebih besar, yaitu anak kalian!


Kemana kan Kau Bawa Aku (anakmu) Ayah, Ibu?


Sahabat. Siapakah yang paling menderita dengan perceraian? Anak, jawabnya. Siapakah yang paling berhak untuk memilih mana yang baik bagi seorang anak selain dirinya? Kalian jawab sendiri.


Anak. Adalah anugrah yang begitu indah, yang diberikan, di amanahkan Alloh kepada kita. Dialah berkah dari Alloh yang menjadikan kita seperti sekarang. Karena Kebesaran Alloh lah, kita diberikan anak. Karena anak juga Alloh yang Maha Luas Rizkinya menitipkan semua yang kita miliki, sekarang. Lalu, masihkah kalian berdua berkata bahwa kebahagiaan kalian karena kalian aja!


Siapa yang Harus Memulai Dahulu Memperbaiki Diri?


Sahabatku. Apakah kalian berpikir bahwa dengan perceraian akan membawa kebahagiaan kepada kalian berdua? Sebagai suami, sahabat berpikir bahwa masalah yang ada saat ini adalah salah si istri. Atau mungkin sedikit salah sahabat sebagai suami. Jika memang merasa bersalah, mengapa sahabat ingin lari dari rasa bersalah itu? Betapa pengecutnya sahabat jika demikian! Coba sebutkan berapa banyak kesalahan istri? Lalu sebutkan seberapa banyak kekurangan dan ketidakmampuan shabat untuk menjadi suami yang baik? Sebagai pemimpin bagi istri, dan ayah bagi anak-anak? Sering ketidakmampuan kita sebagai pemimpin, pembimbing, teladan, bagi istri dan anak-anak kita tidak dijadikan alasan untuk MEMPERBAIKI DIRI! Tapi justru kita takut, dan marah jika dikatakan demikian! Istighfarlah sahabatku. Istighfar.


Kita lebih sering mengharapkan istri kita untuk berubah, memperbaiki diri. Namun bagaimana dengan sahabat sendiri? Ketahuilah bahwa, tidak ada satupun yang dihadirkan Alloh yang Maha Agung kepada kita yang bersifat mutlak, dan selamanya! Bahkan kesenangan dan kebahagiaan di dunia ini pun berfsifat sementara. Dan semua masalah, cobaan, ujian yang dihadirkan saat ini adalah pintu yang diberikan oleh-Nya untuk kita menuju tempat yang jauh lebih indah, lebih mulia, lebih baik! “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan..” (QS. al-Insyirah: 5)


Jika ada janji baik dari Alloh yang Maha Menepati Janji. Maukah kalian bersama-sama menjalani ujian dari-Nya untuk janji baik dari-Nya itu? Harus mulai dari apa, dari mana, dari kapan? Mengapa tidak memulai memperbaiki diri dari diri kita sendiri, dari yang paling mudah, dari mulai saat ini. Karena apapun masalah, cobaan, dan ujian hanya akan dapat diselesaikan dengan mengembalikan ia (masalah itu) kepada tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah Rosululloh Sholallohu ‘alaihi wa sallam. Kembalikan hati ini kepada fitrahnya yang cenderung kepada Kebaikan.



Salam dan Senyum,

.:MasGagah:.

http://www.masgagah80.blogspot.com/

YM: masgagah80

Tuesday, March 31, 2009

Catatan Semangat: Menjadi Lebih Kaya, Lebih Mulia – part 2

Wirausaha. Nabiulloh Muhammad Saw. telah memberikan contoh bagaimana caranya berwirausaha yang menghasilkan kebaikan. Karena dalam pandangan Islam, ukuran sukses bukanlah dari besarnya materi, ataupun keuntungan yang didapatkan dari barang/jasa yang kita jual. Namun sukses sesungguhnya adalah menjalani setiap usaha yang dilakukan dengan berprinsip kepada:

1. Kebenaran yang datang dari, dan di perintahkan Alloh Swt.
2. Kejujuran, dan
3. Amanah

Dengan berpegang teguh kepada ke-3 hal di atas insya Alloh, usaha yang kita lakukan bukan lagi hanya berfokus kepada keuntungan/materi semata. Namun bagaima kita berperan sebagai pemimpin yang mampu memberikan sebaik-baiknya, dan sebanyak-banyaknya manfaat bagi orang lain. Kita bukan lagi hanya bekerja untuk diri sendiri namun kita diberikan kepantasan oleh Alloh yang Maha Luas Rizki-Nya untuk mendatangkan hasil baik bagi lebih banyak orang.

Mengapa Bill Gates tidak lagi berambisi untuk selalu menjadi orang terkaya di dunia jika yang dia cari di dunia ini hanyalah profit/materi semata. Apakah inti kebahagiaan manusia ada pada banyaknya uang, tingginya pangkat dan jabatan, juga ketenaran? Jika kepuasan itu ada pada terpenuhinya semua keingnan dan ego kita. Maka yang kita pertanyakan adalah dimanakah rasa bahagia itu ada? Bagaimanakah cara kita mendapatkannya? Dan 2 pertanyaan ini mungkin yang menjadi dasar banyak manusia milyuner di bumi ini bertanya-tanya. Mengapa limpahan materi dan ketenaran yang mereka dapatkan tidak secara otomatis mendatangkan kebahagiaan kepada dirinya?

Segala sesuatu diukur dengan nilai kepantasan

Keberhasilan kita dalam hal materi pasti dikarenakan usaha dan kerja keras kita dalam setiap usaha yang dilakukan. Dan setiap usaha pasti menghasilkan sesuatu. Masalah kecil, atau banyak hasil yang di dapat adalah kepantasan kita yang dinilai oleh Dia Yang Maha Luas Rizki-Nya.

Kalau begitu, mengapa kita tidak menjadi pribadi manusia yang diberikan kepercayaan oleh Alloh yang Maha Agung untuk menjadi pemimpin yang memberikan manfaat baik bagi banyak orang. Bukankah kita dilahirkan untuk menjadi pemimpin! Pemimpin yang memberikan manfaat baik bagi banyak orang. Bagaimana caranya?

What You Share Is What You Get. Apa yang kita berikan adalah apa yang kita dapatkan. Semakin banyak kita memberi, maka semakin banyak kita dapat. Apa? Kebahagiaan dan kepantasan untuk mampu memberikan lebih banyak manfaat, dan kebaikan bagi banyak orang. Itulah inti dari kebahagiaan. Semakin sering dan semakin banyak kita membahagiakan orang lain, maka semakin bahagia kita, karena melalui kitalah, Alloh yang Maha Agung memberikan Rahmat, dan Rizky-Nya kepada hambanya yang lain.

Bersambung....

Salam dan Senyum,
.:MasGagah:.
http://www.masgagah80.blogspot.com/
Email/YM: masgagah80

Tuesday, March 10, 2009

Catatan Semangat: Don't Think, Just Do It – part 4


FEAR = Takut. Satu rasa yang ditanamkan oleh Alloh yang Maha Agung kepada setiap hamba-Nya agar kita selalu menyandarkan harapannya kepada Dia yang Maha Berkehendak. Jika kita takut terhadap sesuatu yang belum kita lakukan, yakinkan diri bahwa segala sesuatu yang kita lakukan dengan niat dan usaha yang baik, PASTI dibalas oleh Dia Tuhan yang Maha Tahu Hal-hal yang Tersembunyi. Setiap usaha kita PASTI menghasilkan sesuatu. Sedikit-banyak, sukses-gagal adalah satu hal yang baru bisa kita pastikan hasilnya dengan tindakan. Hanya dengan tindakan kita tahu apa yang baik untuk kita.

Coba kita ingat apa yang kita dapatkan saat kita mencoba sesuatu hal baru yang sebelumnya tidak pernah kita lakukan? Ada rasa percaya diri yang tumbuh, meningkatnya kemampuan berpikir dan rasa kita terhadap sesuatu. Intinya adalah, setiap usaha yang kita lakukan pasti membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Jika demikian mengapa kita harus takut terhadap sesuatu yang belum kita lakukan.

Jika kita merasa khawatir itu wajar. Karena hasil dari usaha kita bukan ditentukan oleh kehendak dan keinginan kita, bukan pula oleh rencana super kita, melainkan kita menggantungkan harapan dan keinginan itu kepada Dia, Yang Maha Tahu lagi Maha Luas Rizkinya.

Coba kita ambil ilmunya bayi. Lihat bagaimana cara dia berdiri? Apakah setiap bayi dapat langsung berdiri tanpa sebuah proses belajar dan usaha percobaan yang dilakukan terus-menerus?

Saat bayi melihat bahwa orang-orang disekitarnya berdiri, dia pun ingin melakukan hal yang sama dengan kita. Dia belajar dengan melihat, lalu mencoba. Lalu mencoba lagi dengan cara yang baru. Lalu coba lagi, dan coba lagi. Hingga akhirnya dia tahu caranya untuk berdiri dengan baik. Dan semuanya adalah bukti kebesaran Alloh yang Maha Agung bahwa setiap usaha yang dilakukan secara konsisten adalah satu cara kita untuk memungkinkan tingkat keberhasilan yang lebih.

Bukankah saya, sahabat, dan kita semua mempunyai hak yang sama dalam segala hal. So, kalau begitu segerakanlah ide-ide dan rencana hebat kita untuk diaplikasikan dalam bentuk tindakan nyata. Mulailah bertindak sekarang, dan pantaskan diri untuk rizki-Nya yang lebih BESAR, lalu sandarkan harapan kita yang BESAR itu kepada Dia yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Saya pernah membaca kalimat, Something that don't Kill you, just makes you stronger. Kalau begitu, mengapa harus takut jika yang kita lakukan itu hanya akan membuat kita menjadi pribadi yang lebih kuat, lebih hebat dari sekarang.


Salam dan Senyum,
.:MasGagah:.
http://www.masgagah80.blogspot.com/
YM: masgagah80

Tuesday, March 3, 2009

Catatan Semangat: Don't Think, Just Do It – part 3



Mulai besok Anda saya PECAT! Mmm..., ada yang familiar dengan kalimat ini? Atau kalimat lain yang lebih halus? Apa yang Sahabat akan kita lakukan jika besok adalah hari terakhir kita bekerja di Perusahaan ini?

Sahabatku. Putusnya status kepegawaian adalah salah satu hal yang hampir pasti terjadi. Mengapa demikian? Coba sebutkan berapa banyak karyawan yang kita tahu yang bekerja seumur hidupnya di tempat ia bekerja, sekarang? Bahkan yang punya perusahaan pun satu waktu dia bisa saja berhenti menjadi owner perusahaan miliknya. Dijual mungkin, atau hal lainnya.

So, ternyata jelas sudah bahwa hampir semua dari kita sekarang sedang menanti moment pemecatan atau pengunduran diri. Besok, lusa, minggu depan, atau suatu saat kita pasti berhenti dari pekerjaan kita, sekarang. Jika demikian, apa yang jadi kekhawatiran kita sebenarnya?

Rizki kita adalah sama

Seberapa besarkah rizki yang diberikan Alloh kepada hamba-hambanya? Apakah satu dengan yang lain beda, ataukah sama? Sahabat, yakinlah bahwa Alloh yang Maha Adil memberikan setiap hamba-Nya rizki yang sama melimpah dan sama banyaknya. Tinggal bagaimana kita, seberapa banyak, dan kapan kita mau menjemput rizki-Nya itu.

Sahabat. Rasa takut kehilangan pekerjaan lebih mendominasi pikiran kita daripada rasa takut kita untuk melakukan yang lebih baik yang memungkinkan menghasilkan LEBIH dari sekarang. Kita takut apabila kita keluar dari pekerjaan kita sekarang, maka penghasilan dan rizki yang kita dapatkan tidak akan sebesar sekarang? Padahal Alloh yang Maha Luas Rizkinya memberikan kita kesempatan yang sama untuk bisa menghasilkan LEBIH! Lalu mengapa kita takut untuk menjemput rizki-Nya di tempat lain yang lebih BESAR?

Salah siapa?

Mungkin pendidikan yang kita dapat dari orangtua, dan lingkungan yang kurang mendorong kita untuk menjadi pribadi wirausahawan. Pengalaman dan hasil didik lingkungan kita lebih mendorong kita untuk menjadi pribadi manusia gajian yang merasa nyaman jika ada nilai tetap yang didapatkan setiap bulannya. Padahal kebutuhan kita semakin meningkat, sementara nilai tetap (gaji) yang kita terima tiap bulannya segitu-gitu saja. Bahkan kita sering memaksakan diri untuk bersabar terhadap keinginan-keinginan BESAR kita karena minimnya penghasilan.

Sahabat. Mimpi adalah modal kita untuk berubah. Namun mimpi itu akan tetap menjadi mimpi yang indah jika kita tidak berusaha untuk meraih mimpi itu dengan usaha dan sikap yang lebih besar. Bagaimana mungkin kita bisa mempunyai rumah seharga 1 milyar, dan mobil seharga 500jt jika kita merasa nyaman dengan gaji yang hanya 2-3 juta per bulan? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai sekolah 1000 anak-anak yatim jika untuk menabung saja sulit karena kebutuhan yang semakin meningkat!

Apakah kita harus mengecilkan mimpi itu kita karena keadaan?

Sahabat. Dalam setiap keinginan selalu ada harga untuk kepantasannya. Jika kita menginginkan yang BESAR, maka jadilah pribadi yang pantas untuk sesuatu yang BESAR itu. Tetapkan mimpi itu, lalu raihlah dengan usaha terbaik kita. Jangan kecilkan mimpi kita yang BESAR karena keadaan kita yang sekarang. Karena mimpi kita adalah satu bukti dari kebesaran Alloh yang Maha Agung untuk memberitahu kita bahwa apapun yang menjadi impian kita PASTI bisa diraih dengan usaha maksimal dan atas izin-Nya.

So, maksimalkan setiap usaha kita untuk meraih mimpi itu, lalu serahkan setiap jerih payah usaha kita kepada Dia yang Maha Berhak untuk Menentukan, apakah mimpi itu baik untuk kita atau ada hasil yang lebih baik bagi kita.

Sahabat. Tugas kita hanyalah mengupayakan setiap keinginan yang ada dalam pikiran dan hati yang baik. Apapun hasil dari setiap usaha kita, yakinlah bahwa hasil itu adalah yang terbaik untuk kita saat ini. Jika mimpi itu ada di depan kita sejauh seribu usaha, janganlah sahabat berhenti di usaha yang ke 999. Ingatlah selalu bahwa pertolongan Alloh itu sangat dekat. Don't Think, and Just do It.

Salam dan Senyum,
.:MasGagah:.
http://www.masgagah80.blogspot.com/
YM: masgagah80

Thursday, February 5, 2009

Catatan Untuk Sahabat: Yang Dihadirkan, Yang Terbaik Untuk Kita


(untuk sahabatku yang jauh di sana)

Sahabat. Masih ingat bagaimana cara kita mengeluhkan sesuatu yang hadir dalam hidup? Bagaimana pintarnya kita berprasangka kurang baik terhadap apa yang terjadi pada kita, dan yang kita miliki saat ini?

Semua yang kita miliki saat ini, adalah hasil dari usaha yang kita lakukan sebelumnya. Cinta, dan kasih sayang adalah salah satunya. Mobil, rumah, suami, atau istri adalah hasil dari usaha dan doa kita yang diijinkan oleh Alloh yang Maha Memiliki.

Sebagai contoh adalah bagaimana begitu semangatnya kita mengeluhkan istri di rumah. Ataupun sebaliknya, istri yang mengeluhkan kondisi suaminya. Padahal waktu berpacaran dulu kalian terlihat begitu mesranya, begitu senangnya mengucapkan kata cinta setiap hari. Harapan untuk selalu bertemu dengannya selalu menggebu. Seakan dunia tak indah bila tidak berdua bersamanya. Lalu, mengapa sekarang tidak!

Di mana kebahagiaan yang dulu, di mana janji-janji manis yang kalian ikrarkan bersamanya? Mengapa setelah memutuskan untuk memilih dia, sahabat menjadi ragu dan tidak percaya dengan keputusan sendiri? Apa yang salah? Apakah kala itu sahabat merasa salah memilih dia untuk menjadi pandamping hidup?

Siapa yang bisa menjamin seseorang itu adalah baik untuk kita? Apakah ada parameter, atau acuan yang pasti membuat kita bahagia dalam hidup selain berpedoman pada Al-Qur'an dan Sunnah Rosululloh? Apakah materi, fisik, dan jabatan yang kalian jadikan acuan dalam menentukan kebahagiaan?

Semua yang dihadirkan adalah buah dari usaha dan doa kita. Permohonan kita kepada yang Maha Mengabulkan Doa. Kita menginkan jodoh yang cantik, ganteng, kaya, berpendidikan tinggi, dll. Namun semua itu tidak membuat kita berbahagia. Lalu, apa yang salah?

Dengan mudahnya kita berkata, pernikahan itu yang penting adalah komunikasi, sikap saling pengertian, dan tanggungjawab. Memang betul, tapi bukanlah itu kunci sebuah kebahagiaan.

Sahabat. Setiap diri sudah ditetapkan untuk selalu cenderung kepada kebaikan, kepada Dia yang Maha Penyabar menunggu kita untuk kembali kepada-Nya. Semua yang sudah ada adalah hal terbaik yang dititipkan oleh Alloh yang Maha Memiliki kepada hamba-hamba-Nya. Bukanlah seberapa besar yang sudah kita lakukan, namun seberapa besar pengertian dan rasa syukur kita terhadap apa yang sudah diberikan. Yang sudah kita pilih.

Terlalu banyak perceraian yang terjadi karena berawal dari hal kecil. Bahkan sangat kecil menurut saya. Terlalu sering kita sebagai suami untuk mengatakan bahwa dia (istri kita) ternyata bukanlah yang terbaik untuk kita. Lalu menjadikannya alasan untuk kita menikah lagi. Alasan yang hanya berdasar pada ego dan nafsu semata. Bukanlah masalah siapa yang kita pilih untuk dinikahi, tapi bagaimana cara dan sikap kita terhadap yang sudah kita pilih. Bagaimana mungkin kita bisa membahagiakan wanita yang lain, jika terhadap dia (istri kita) sekarang kita tidak bisa membahagiakannya.

Bahagiakan yang satu, baru sahabat mempunyai hak untuk membahagiakan yang lainnya.

Salam dan Senyum,
.:MasGagah:.
http://www.masgagah80.blogspot.com/
YM: masgagah80

Wednesday, January 21, 2009

Catatan Semangat: Sukses = Pembelajaran


Masih ingat catatan semangat yang berjudul GAGAL = Pembelajaran? Yup, ternyata Sukses itu hanya bisa diraih dengan sikap diri yang terus menerus tanpa henti mau BELAJAR dari apapun, dari siapapun.


Untuk Sahabatku yang berprofesi Sales

Sahabat. Masalah apa yang paling besar dan paling sering diperbincangkan dalam perusahaan tempat kita bekerja selain mengenai Pejualan, betul?

Pertama. Apakah sahabat masih menjadikan faktor gaji sebagai ukuran kerja?

Apakah gaji yang sekarang 15 juta setahun itu masih kurang?...:) Bagus jika masih terasa kurang. Itu berarti sahabat masih menginginkan penghasilan yang jauh lebih besar, dan kehidupan yang lebih baik dari sekarang. Tapi apakah penghargaan dari perusahaan tempat kita bekerja mempengaruhi kualitas kerja kita? Apakah gaji yang sekarang hanya kita pantaskan untuk kualitas kerja yang sekarang, saja?

Kedua. Masihkah sahabat dipusingkan oleh target?

Target, adalah satu cara bagi setiap perusahaan untuk mengukur kemampuan kita (Sales) dalam hal menghasilkan bagi kemajuan perusahaan. Target dibuat dari hasil pertimbangan penjualan yang ada sebelumnya. Target bahkan kadang bersifat Mustahil, dan GILA!

Adakah di antara kita yang diberikan target oleh perusahaan dengan angka yang sangat tinggi? Jika ada, berarti perusahaan, atasan kita menilai kita setinggi target itu. So, katakan pada diri kita ini; berapapun target yang diberikan oleh atasan/perusahan, ambilah target itu sebagai satu cara bagi kita untuk menjadikan diri ini lebih besar dari yang sekarang!

Jika target adalah cara untuk membantu kita menjadi pribadi yang pantas untuk hasil yang lebih baik, maka lakukanlah. Jika target yang dibebankan kepada kita terasa terlalu berat, maka berbagilah beban itu kepada yang Maha Meringankan Beban. Beban itu perlu, karena manusia tanpa beban sama halnya manusia yang lemah. Atasan/Perusahaan yang tidak memberikan Salesnya TARGET yang tinggi sama saja merendahkan kita karena mungkin berarti kita tidak pantas untuk hasil yang LEBIH. So, berbahagialah bagi sahabat yang diberikan TARGET TINGGI dan lakukan yang terbaik dari yang tidak biasa kita lakukan. Lakukan dengan cara yang LUAR BIASA!

Jika TARGET tidak tercapai

Sahabat. Jika target yang diberikan oleh atasan/perusahaan tidak bisa kita penuhi secara baik bukan berarti kita GAGAL. Jadikanlah target adalah acuan bagi kita untuk mencapai hasil yang lebih dari sekarang. Berapapun lantai yang bisa kita capai, berapapun hasil yang bisa kita raih, itulah kualitas diri kita saat ini di tempat kerja kita sekarang. Nikmatilah proses dalam usaha masksimal kerja kita, lalu tunggu hasilnya.

Mungkin yang harus dipertanyakan adalah, apakah kita sudah mengupayakan hasil itu dengan usaha terbaik kita? Jika belum, maka salahkanlah diri kita yang belum melakukannya. Namun jika sudah, maka sahabat sudah berada di jalan yang tepat yang terbaik untuk sahabat. Sukses bukanlah keniscayaan, dia diberikan oleh yang Maha Pemberi kepada hambanya yang selalu berusaha dan berharap kepada yang baik.

GAGAL = Awal KEBERHASILAN

Seorang Sales yang tidak bisa perform di tempat kerjanya, bukan berarti bahwa dia adalah Sales yang buruk, bilamana hasil yang didapatkannya sudah dilakukan dengan usaha terbaik dan semaksimal yang dia bisa. Ketidakmampuan Sales dalam memenuhi target boleh jadi adalah satu cara Alloh yang Maha Mengetahui Rahasia Alam dalam merencanakan keberhasilan hamba-Nya.

Lihat berapa banyak orang yang di pecat, atau mengundurkan diri dari perusahaan tempat dia bekerja lalu dia berhasil, sukses, berkembang lebih cepat dan lebih baik bahkan lebih besar dari empunya Perusahaan tempat dia bekerja sebelumnya? Apakah tempat kita bekerja sekarang adalah tempat satu-satunya Alloh yang Maha Pemberi memberikan rizki kepada hamba-Nya?

So, ternyata bukanlah target yang tidak bisa kita penuhi yang harus kita takutkan. Namun proses dalam setiap usaha yang kita lakukan apakah sudah yang terbaik atau belum? Jika dalam proses itu sudah dilakukan dengan baik, maka berserah dirilah kepada yang Maha Pemberi. Apapun hasilnya Dialah yang Maha Menentukan segala yang terbaik untuk kita.

Pemimpin yang Baik = GURU yang Baik bagi keberhasilan yang dipimpinnya

Saya memberikan hanya 2 kriteria mengenai seorang Pemimpin.

1. Pemimpin TEGAS

Pemimpin TEGAS adalah seorang Pemimpin yang besar penghargaannya terhadap karyawannya yang berprestasi, juga bersikap TEGAS terhadap yang tidak. Bilamana ada karyawannya yang tidak perform selama masa percobaan, maka dia akan segera meminta karyawannya tersebut untuk resign. Bagaimanapun usaha yang dilakukan oleh karyawannya, semaksimal apapun namun tidak juga menghasilkan baik bagi perusahaan tetap saja tidak menguntungkan.


2. Pemimpin Kompromis

Adalah Pemimpin yang selalu mendahulukan perasaan baik ketimbang logika pemikiran. Jika ada karyawannya yang usahanya maksimal namun tidak juga menghasilkan baik, maka tipe Pemimpin seperti ini biasanya akan memberikan perpanjangan masa percobaan kepada karyawan tersebut dengan beberapa alasan yang baik.

Tipe Pemimpin seperti ini juga lebih melihat jauh ke depan mengenai hal-hal baik dari yang dipimpinnya. Dan biasanya pemimpin seperti ini memiliki banyak teman, karena baginya karyawannya adalah teman dia dalam satu rumah yang sedang diangun untuk menjadi lebih besar dan lebih baik.

Menggabungkan keduanya? Mengapa tidak! So, kriteria seperti apakah sahabat ingin menjadi pemimpin kelak?

Salam dan Senyum,
.:MasGagah:.
http://www.masgagah80.blogspot.com/
YM: masgagah80

Friday, January 16, 2009

Catatan Semangat: Untuk sahabatku semua yang peduli


Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.

(QS. Al-Baqarah (2) : 154)

Mati. Satu kata yang memiliki arti yang sangat dalam. Mati berarti putusnya semua kenikmatan hidup yang dirasakan oleh manusia. Mati, merupakah kata yang sangat menakutkan bagi sebagian orang, namun Mati juga menjadi satu keadaan yang banyak dirindukan. Dirindukan oleh kaum Muslimin di Palestine, di Irak, Afghanistan, Cechnya, Moro, dan belahan dunia lainnya. Lalu pertanyaannya adalah, MENGAPA?

Mati, dianggap sebagian orang adalah akhir dari kehidupannya. Namun mati bagi kaum Muslimin adalah awal dari Kehidupannya. Mengapa? Karena mati adalah satu-satunya jalan bagi seorang hamba untuk bertemu dengan Tuhan-Nya, Alloh 'Azza wa Jalla.

Sahabat. Kita dapat melihat dan menonton setiap hari saudara-saudara kita yang ada di Palestine sekarang sedang berjuang untuk memperjuangkan hak atas tanah, kemerdekaan, dan hidupnya di tanah yang mulia, Palestine dari kebiadaban Israel dan Sekutunya. Apakah yang bisa kita lakukan di sini hanya menoton tanpa melakukan apapun?

PBB, dan Dunia hanya bisa ikut menyaksikan kebiadaban demi kebiadaban Israel kepada saudara kita di Palestine. Dunia hanya bisa membisu dalam sikap, dan berucap. Kecaman, kecaman , dan kecaman yang hanya bisa dilakukan PBB dan Dunia terhadap Zionis Israel, Laknatulloh. Jika Irak yang di gempur habis-habisan hanya dengan alasan mempunyai senjata pemusnah massal, maka Palestine dijajah Dunia karena kebencian Yahudi dan Zionis kepada kaum Muslim. Padahal kita bisa lihat, siapa yang menggunakan senjatanya untuk membunuh anak-anak, kaum ibu dan masyarakat sipil!

Masihkah kita terus membeli produk-produk mereka? Masihkah kita terus ikut menyumbangkan sebagian harta kita untuk kebiadaban mereka? Masihkah kita membeli nyawa saudara kita dengan produk-produk mereka?

Sahabatku, apakah kendaraan kita harus barbahan bakar SHELL? Berpelumas SHELL? Apakah susu untuk bayi-bayi kita harus dari NESTLE, popok HUGGIES? Haruskah kita berdandan dengan L'OREAL, REVLON? Haruskah kita makan siang ke McDonald dan menyegarkan diri dengan minuman Coca-Cola atau NESCAFE?

Sadarlah saudaraku. Seribu orang tidak akan merubah sesuatu, namun 100 juta orang yang memboikot produk Yahudi, Amerika dan sekutunya insya Alloh akan memberi pengaruh. Tulisan ini bukanlah sabda ataupun perintah dari Nabiulloh Muhammad Sholallohu'alaihi wa sallam. Namun dari seorang Muslim yang peduli karena saudaranya dijajah dan dibantai di Palestine dan dunia Islam lainnya. Jika sahabat tidak juga tergugah, mungkin satu saat diakhirat nanti akan ada miliaran orang yang melihat kekejaman kita karena ikut membantu Zionis dan Yahudi membantai saudara-saudara kita.

Al haq murobbik. Semoga hati yang telah kotor ini masih diberikan cahaya untuk melihat cahaya kebenaran yang datang hanya dari Alloh Alloh 'Azza wa Jalla.

Salam dan Senyum,

.:MasGagah:.
http://www.masgagah80.blogspot.com/
YM: masgagah80

Boikot sekarang!

Intel
Coca Cola
Estee Lauder
Nestle
Sara Lee
L'OREAL
McDonald
Johnson & Johnson
Revlon
Danone
Nescafe
Maggi
KitKat
Kleenex
BOSS
KOTEX
Calvin Klein
HUGGIES
Maybelline
Carrefour
Ambi Pur
Sanex
KIWI
Champion

Aliyah Zaharani Putri

Aliyah Zaharani Putri